"Seorang Muslim, harus sama baiknya antara membaca dan menulis"
(Hasan Al-Bana)

Senin, 01 Desember 2014

Go A Head!!!

Dalam kenyataan hidup tak selamanya indah, ada suka, cita, cinta, duka dan lara. Begitupun dengan kehidupan yang saya hadapi tak selamanya indah, tapi semua harus dilewati dengan baik, tergantung bagaimana menghadapi dan menyikapi berbagai macam apa yang terjadi. Yang terpenting adalah semangat terus dan tetap tersenyum. ayo maju, Go A Head!!!

Selasa, 10 April 2012

SEMANGAT bukan SEMANGIT!!!

Awalnya menulis itu bebeh (malas) alias membosankan jika tidak diawali ide yaang menarik, tapi menyenangkn jika sudah larut dan terlalu "dalam" mengikutinya, dan pada akhirnya akan terus bertemu "sesuatu" yang menyenangkan. Maka tetap semangat bukan semangit di awal dan di akhir.

Selasa, 21 Desember 2010

Just For U Mom...

Tak ada yang bisa kuberikan untukmu,
Tak ada yang bisa kupersembahkan,
selain baktiku padamu ma...

Selalu cintamu yang tulus untuk buah hatimu tersayang
Sampai titik darah menetespun kau tetap berjuang demi anak-anakmu
Tak ada yang bisa menggantimu ma...

Aku bangga menjadi perempuan sepertimu kelak ma...
dan
Aku bangga memeiliki ibu yang aku panggil "Mama"

Thanks for your love
Love U Mom...

Selamat hari ibu ya ma...

Senin, 23 Agustus 2010

Jika Satu Hari Ke Kota Seoul (Korsel)

Petang di kotaKembang. Kakiku masih terus menelusuri jalan dan tanganku masih memengang buku peta"ATLAS LENGKAP"pemberian kawan lama yang tertinggal dikosanku dalamperjalannannya mengelilingi pulau Jawa, sebut saja Adrian, ia memang sudahterkenal sebagai penjelajah, hampir tiga perempat dunia ini sudah ia kelilingi.Aku iri melihatnya saat ia menunjukkan beberapa foto pose-posenya selamapenjelajahan di Sulawesi dan Kalimantan.

"ah... betapa irinya aku ini. Seandainya tahun lalu akutak menolak ajakannnya untuk menjelajah pulau Sumatra dan Riau mungkin hari iniaku masih bersamanya menikmati perjalannan, tapi... ya sudahlah it's gonna be oke!"


Hampirsetiap hari kubawa buku peta ini, kusimpan selalu dalam ranselku. Setiap kaliada luang waktu kubuka buku peta ini bolak balik kulihat peta Indonesia, Singapura,Malaysia, Philipina, Thailand, Vietnam, Myanmar tak lupa kulirik pula peta Asia,Australia, Afrika, Eropa, Amerika.

Dahikumengernyit ketika kubuka peta Dunia Kenegaraan mataku tertuju pada peta kecilletaknya menyudut berdekatan dengan negara Jepang, KOREA.Negara ini terbagi 2 utara dan selatan. Korea Utara yang berhaluan sosialis,dan Korea Selatan yang lebih kapitalis dan berhubungan sangat dekat denganamerika Serikat.


Konon perpecahannegara ini terjadi setelah adanya perangsaudara atau yang terkenal dengan nama "Korea War" (Perang Korea). Tanganku segera megklikGoogle dan mencari tahu "Negara Korea".Entah kenapa keingintahuan tentang negara Korea begitu kuat, mungkin karenakeunikan budaya mereka. Hal ini bisa terlihat dalam film-film Korea yang beredar dilayar kaca setiapsore di salah satu televisi swasta. Selain cantik dan ganteng para pemerannya,juga unik dalam memerankan setiap adegan setiap cerita-ceritanya.

INFO TENTANG SEOUL

SEOUL. Salah satukota yangterletak di Korea Selatan. Secara geografis wilayah Korea Selatan tidak terlaluluas. Koreamemiliki luas 99.400 km persegi, hampir sama dengan luas wilayah Inggris. Seoul merupakan ibukota dan jantung kotayang kedua dari Republik Koreaselatan yang berpenduduk sekitar 10,2 Juta rakyat dari 46 juta jiwa rakyatKorea Selatan. Seoul menduduki pemerintah selamaPaekche Kingdom (18-660 sebelum Masehi), danmerupakan ibukota dari dinasti Choson mulai 1394 sampai 1910. Peninggalan daridinasti Chosoen yang termashur merupakan penemuan kebudayaan dan berbagaiprestasi lainnya, prestasi yang masih terkemuka adalah pemandangan kota.

Seandainyaaku diberi kesempatan sehari saja berada di kota Seoul yang terkenal dengan ibukota negeri ginseng itu, maka yang akan aku kunjungi pertama kali adalahberkunjung ke tempat peninggalan sejarah kuno Korea yaitu istana Cahangdeokgungdan Biwon, dinasti yang paling lama memerintah yaitu dinasti Chosoen yangdimulai pada abad ke 14. Menurut iformasi, istana kuno itu masih terawat rapi,walaupun dulu banyak kerusakan akibat perang Korea. Bangunannya berarsitektur Korea, tataruang dan letaknya di perbukitan membuat istana ini amat menarik untuk dikunjungi.

"Wah...benar-benar mengagumkan, seandainya aku ada disana pasti gak akan lupa berposejeprat jepret jeprat jepret hehehe...".


Dalam seni,tradisi koreajuga memiliki kekhasan dan ciri khas tersendiri. Jika di Indonesia ada yangdisebut dengan "Gamelan" sebagai kesenian tradisional, maka di Korea ada alatmusik semacam siter dan seruling, mereka menyebutnya "Kayagam dan Daegeum".

Korea terkenaldengan gingsengnya, sejenis tanaman diambil umbinya kemudian dimanfaatkan oranguntuk makanan dan minuman semacam teh juga ada yang dipakai sebagai campuranminuman keras. Gingseng Koreaberkhasiat menambah kekuatan.

Bukti darikekayaan pusaka Seouladalah istana, kuil, dan monumen. Seoul memilikikekayaan adat dan pengetahuan tentang Korea dan masyarakatnya. Sebagiankecil kota-kota di dunia yang sangat modern maupun bekas-bekas kota yang kuno terus ada secara berdampinganseperti keseimbangan.

Seoul merupakannegara yang banyak akan keanekaragaman konser, opera, dan pertunjukan olehpemusik lokal maupun pemusik pendatang. Pusat kesenian Seoulberlokasi di sebelah selatan Seoul.Pusat Kebudayaan Sejong berlokasi tepat di jalan raya Seoul,bioskop Nasional berada di taman Mt. Namsan, dan gedungkesenian Ho-Am berada dekat dengan Balai Kota. Pusat kesenian Seoul merupakan daya tarik kebudayaan yangsangat membanggakan. Fasilitas-fasilitasnya meliputi semua ukuran gedung-gedungpertunjukan yang besar maupun kecil, gedung kaligrafi, galeri-galeri kesenianyang kecil, perpustakaan, dan gedung opera. Juga rumah national Center untukpertunjukan kesenian tradisional masyarakat Korea.

Rumah Korea, berlokasi tepat di pusat kotaSeoul, danmerupakan rumah yang masih bergaya kuno. Tradisi serta adat kebiasaanmasyarakat Koreamasih ada didalamnya. Para ahli masakan menyediakan hidangan ala Koreasebagai pendamping acara seperti musik dan tarian rakyat.


"wah wah wah... makin gregetan aja pengen ke Seoul,menikmati pemandangan disana, menikmati minuman gingseng berasa banget angetnya kali ya hehehe... btw, kapan ya ke Seoul?he membaca infonya aja udah gregetan apalagi benar-benar ada di seoul betah kali ya hehehe. Tinggal kumpulkan dana berangkat dech kesana. Ada yang tertarik?".








By: Novianti Suradji, S.S

Rabu, 18 Agustus 2010

Tak Sekali Ini Lagi

Tak sekali ini hati gundah

tak sekali ini hati gelisah

tak sekali ini raga lelah

tak sekali ini jiwa mendera

maka

tak kan kubiarkan hati ini gundah lagi

tak kan kubiarkan hati ini gelisah lagi

tak kan kubiarkan raga ini lelah lagi

tak kan kubiarkan jiwa ini mendera lagi

karna,

TUHAN tak sekali ini dan tak membiarkan lagi aku sendiri







18/08/2010

By: Vhie Soeradji

Kamis, 22 Juli 2010

Apa sih “Keistimewaan Bulan Sya’ban itu?”


Kata “Sya’ban” berasal dari akar kata “Sya’aba yasy’abu sya’ban” yang artinya berpisah, bercerai berai. Bulan sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah. Dinamakan bulan sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Selain itu dinamakan bulan sya’ban karena sya’ban (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan.
Sebagian ulama menyebutkan Sya’ban sebagai bulan shalawat kepada Nabi SAW. As-Sayyid Muhammad Alawy al Maliki al Hasani berpendapat bahwa rahasia mengapa Rasulullah SAW menisbatkan Sya’ban sebagai bulannya, karena pada bulan inilah turun ayat sholawat dan salam.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanklah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzaab [33] : 56).

Bulan Sya’ban menjadi bulan yang penting bagi umat muslim. Betapa tidak. Inilah waktu yang tepat bagi seluruh umat muslim untuk mempersiapkan diri menuju datangnya Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan Anas RA, ia berkata, “Setiap bulan Rajab tiba rasulullah SAW selalu memanjatkan doa.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنا فِى َرَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkati kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan antarkan kami sampai bulan Ramadhan.”

Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa, karena pada bulan tersebut terjadi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Sya’ban merupakan buku laporan akhir tahun. Sehingga, di bulan ini Rasulullah SAW banyak berpuasa. Harapannya ketika laporan tahunan dinaikan ke langit, Rasululloh SAW dalam kondisi berpuasa. Sya’ban sebagai bulan pengingat dan persiapan menjelang datang Ramadhan. Sebagai tamu agung, Ramadhan harus dipersiapkan. Sebagai mana layaknya manusia akan menyambut seorang tamu yang agung.

KEISTIMEWAAN BULAN SYA’BAN

Pertama, perubahan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah di Masjidil Haram Makkah terjadi pada bulan sya’ban.

Kedua, pada bulan Sya’ban amal ibadah setiap hamba diangkat menuju Allah.

Ketiga, pada bulan Sya’ban umur manusia ditetapkan kembali. Maksudnya, ketetapan umur ini ditampakkan di bulan Ramadhan.

Keempat, pada bulan Sya’ban terdapat malam penuh berkah yang diagungkan yaitu Nisfu Sya’ban.

Sya’ban termasuk bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Pada bulan yang mulia ini perang harus dihentikan. Lalu bagaimana dalam kehidupan sehari-hari? Konflik di dalam rumah tangga, di masyarakat, mungkin juga konflik antara pemimpin-pemimpin bangsa harus segera dihentikan.

Kelima, pada bulan Sya’ban terdapat Lailah Nisfu Sya’ban. Imam Syafi’I mengingatkan, ada lima malam yang istimewa. Selain Lailatul Qadar, yakni: malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam Nuzulul Qur’an dan malam Nisfu Sya’ban.

Diringkas dari Tabloid Republika “Dialog Jum’at” edisi jum’at, 16 Juli 2010 oleh Novianti Suradji, S.S

Sabtu, 29 Mei 2010

EPISODE Secangkir Teh Tawar II


Senja kali ini tak begitu cerah, dan masih lagi aku menyeruput teh tawar hangat.
Kali ini teringat perjalannan di kota kembang, Bandung. Hari yang cerah di sepanjang jalan Braga sore itu. Bangunan lama yang unik sangat terlihat jelas sejarah telah mengukirnya puluhan tahun lamanya. Juga "Marasquino" (B. Belanda) belum pernah kunikmati sebelumnya ice cream ini.
Namanya "Sumber Hidangan" semacam kedailah, di kedai ini Marasquino kunikmati. Kedai yang menyediakan aneka makanan berat, dan yang sangat menarik kedai ini menyediakan ice cream. Nama-nama ice creamnya menggunakan istilah bahasa Belanda, konon katanya kedai ini dibuka sejak "tempoe doeloe", terlihat dari bangunanya, kursi dan mejanyapun begitu. Sekedar menikmati ice cream saja dan segelas minuman "sorbert Frambors". Emmm... rasanya menusuk lidah beda dengan ice cream dan minuman ditoko-toko lainnya.

Senja makin menua

Ada kehangatan di sana dan harapan untuk memulai hari yang indah selalu terpatri dalam dada. Sejenak terhenti dan lelaki itu bergumam:

"Aku senang kamu selalu meragukanku, sebab dengan seperti itu aku akan selalu terus berusaha untuk meyakinkanmu. hingga suatu saat nanti".

Blegg!!!
Terdiam sejenak, lalu kulemparkan senyum simpulku (mati kutu aku dibuatnya).

ah... smoga saja tak lagi kumeragukannya.

Kamis, 27 Mei 2010

EPISODE Secangkir Teh Tawar I


Waktu masih menguraikan kisah. Dan masih saja secangkir teh hangat menemani dengan setia. Lagi tentang kiriman puisi dari lelaki atas nama SENJA, ia bertutur

"Izinkan aku mencintaimu dengan sederhana",

meski keraguan sempat dan bahkan terus bergelayut dalam dada tapi ia meyakinkan bahwa

"Aku mencintaimu tulus adanya".

Lalu sampai kapan kegelisahan itu akan terhenti? benarkah ketulusannya adalah kekuatanku? Ah... lilinpun masih berpijar di atas meja masih ada lembaran puisi lainnya menungguku untuk membacanya, dan lagi bayangan boneka kecilpun masih terlintas mementaskan dramanya yang lucu, tak perlu khawatir dengan kegelisahan itu, biarkan terurai... Masih ku menunggu kalimat indah darinya sebagai ungkapan rasa yang berharga, masih juga aku disini bersama pena, kertas, dan secangkir teh tawar di pagi dan senja yang sepi.

PAGI dan SENJA

PAGI:
Bermula dari sebuah kata, lalu terangkai kalimat indah dan menjelma menjadi puisi. semua terangkai indah dan tersusun rapi. selalu puisi itu datang tatkala pagi menghangat dan senja menua. kucoba membaca kembali ketulusan hatinya lewat pesan dalam puisi yg terkirim. wajarkah bila hati ini masih meragukan ketulusannya? lalu terlalu cepatkah bila aku memaknainya sebuah cinta yg tulus? aku memang mengaguminya, tapi belum lma jg lukaku msh belum kering... seharusnya aku bgmna?

SENJA:
Kali ini senja slalu trguyur hujan, ktika itu pula kriman puisi selalu ad seiring redax hujan disenja yang menggigil. Pelangi, pena, kertas lalu secangkir teh tawar hangat, kala itu mengubah senja yang tak lgi menggigil, sambil membaca puisi yang baru saja diterima dari lelaki atas nama SENJA.

ah... suasana yang hangat pasti akan selalu rindu dengan puisi yg indah dan SENJA.

Sabtu, 13 Maret 2010

Bulan Sepasi Yang Hilang

Ku kira ia datang dengan cahaya sempurna
ternyata hanya cahaya bulan sepasi
cahayanya tak sempurna, dimanakah separuh cahaya itu?
haruskah aku cemburu dengan bulan sepasiku ketika ia masih merindukan bintang yang lain?
aku hanya satu bintang dari ribuan bintang lainnya...
Biarkan bulan sepasiku pergi dengan bintang yang lain
yakinku akan ku temukan bulan purnama cahayanya sempurna
cahayanya yang merona yang akanselalu menemaniku dan bercahaya untukku...


By: Novianti Suradji, S.S

Senin, 01 Maret 2010

Selir Hati: Catatan Hati Wanita Singgahan (2)

Rasanya tak mungkin jika tidak ada kata “Cemburu” dalam kisah percintaan. Dengan cemburu seseorang bisa melakukan apa saja. Dalam cemburu ada rindu ada rasa ingin memiliki, begitulah cemburu. Seperti halnya Win kini mulai cemburu dengan istri Bram. Mulanya Win bersi keras agar tidak ada kata cemburu saat Bram bersama istrinya. CEMBURU! Ya Cemburu, Win mulai cemburu pada istri Bram. Win sadar betul bahwa perasaan Cemburu ini tidaklah berarti, rasa cemburunya tidak akan menawar kehadiran Bram yang selalu diinginkan Win.

“BODOH aku ini! Benarkah aku mulai mencintai Bram? Menyayanginya? cemburukah aku?" gumam Win dalam batinnya saat ia menatap tajam kaca meja rias dikamarnya.

Win masih menunggu kabar dari Bram. Menatap handphonenya yang masih tergeletak di atas meja masih juga belum terdengar dering pesan singkat atau telfon dari Bram. Tiba-tiba terdengar dering handphone Win bernada “Random” menandakan pesan singkat diterima. Terukir senyum dibibir Win saat membuka handphonenya menandakan kabar baik diterimanya dan meyakinkan pesan singkat yang diterima adalah dari Bram.

“Sayang, kutunggu kau di Caffe biasa sore ini,” begitu pesan Bram dalam pesan singkat.

Sumringah dan rasa senang diwajah Win sangat terlihat mencolok. Win mulai sibuk memilih pakaian yang cocok agar terlihat cantik saat bertemu Bram, Win pun memilih pernak-pernik yang serasi dengan warna bajunya.
Siangpun beranjak dari masanya, Win berjalan gontai menyusuri jalan dengan perasaan senang cuacapun nampak cerah sore itu. Rasa rindu yang terpendam akan segera terobati. Seperti bom yang siap meledak memburatkan percikan-percikan kebahagiaan. BATAVIA CAFFE. Win melongok kedalam, terlihat ramai disana tak pernah sepi caffe ini oleh pengunjungnya, terlihat kursi-kursi yang terisi oleh para pengunjung yang sering datang ke caffe ini. Seperti biasa Win memesan tempat duduk no 5 yang selalu dijadikan tempat untuk bertemu Bram. Letak kursi no. 5 ini terlihat memojok, disini terlihat semua tata letak ruangan di caffe ini, jika menatap lurus mata akan dimanjakan langsung dengan pemandangan tanaman buatan yang sangat indah.

“Bram sayang… aku sudah sampai di caffe, cepat datang ya…” Win mengabari Bram lewat pesan singkat.

Sambil menunggu Bram mata Win disibukan dengan pandangan ke arah sekeliling ruangan di caffe itu, terlihat aktifitas beberapa pengunjung yang berkelompok atau berdua saja bahkan bertiga. Kebanyakan pengunjung adalah pegawai kantoran di sekitar caffe ini, terlihat dengan pakaian mereka yang selalu mengenakan dasi sedangkan yang perempuan menggunakan blazer, mereka juga tak pernah lepas tangannya dari laptop, yang melepas lelah dari macam-macam aktifitas di kantor dengan ngobrol atau dengan senda gurau walaupun menu yang mereka pesan hanya minuman dan makanan ringan saja sebagai pelengkap obrolan mereka. Tak terasa setengah jam berlalu Win tersadar bahwa ia sedang menunggu Bram.

“Bram mana ya? Ko belum datang juga?” gerutunya dalam batin.
Ah… mungkin jalanan macet biar kutunggu saja,” Win menutupi rasa gelisahnya. Sesaat datang pelayan caffe menawarkan menu di caffe itu.
“Maaf, selamat sore bu silahkan ini daftar menunya," sapa pelayan caffe.
"Oia… nanti saya pesan sekalian dengan teman saya," jawab Win.

Satu jam berlalu. Bram tak kunjung datang juga, Win mulai gelisah, ia merogoh handphonenya dalam tas tak terlihat juga kabar lewat pesan singkat atau telfon dari Bram. Iapun mencoba menghubungi handphone Bram, tapi tiba-tiba handphonenya bernada tidak aktif. Win tetap menunggu Bram. Perasaannya mulai gelisah. Dua jam, tiga jam berlalu akhirnya Win merasa kesal lalu beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk PULANG!. Dengan perasaan kesal dan kecewa terhadap Bram Win terus menyusuri jalan. Langitpun mulai gelap dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan turun terdengar petir yang menggelegar. Tiba dirumah Win langsung membanting tas selendangnya dan berlari kencang menuju kamar lalu ia menjatuhkan badan ke tempat tidurnya. Kecewa, sedih dan sakit hati yang berkecamuk dihati Win. Rasa penasaran dan khawatirpun yang dirasakan win tak terbantahkan. “Kemana Bram? Ada apa dengan Bram?”, Win mencoba menghubungi handphone Bram berulang kali namun tidak dapat dihubungi. Terdengar isak tangis Win. Meringis sebagai ungkapan kekecewaannya terhadap Bram, tak lama kemudian Win terlelap.

Pagi menyapa. Win terbangun dari tidurnya, lemas dan pusing dikepalanya itu yang dirasakan Win. Saat terbangun, matanya tertuju pada jendela kamar yang masih tertutup, matahari berusaha memburatkan cahayanya lewat sela-sela gordin yang tak penuh menutup jendela. “Sreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet,” silau mata Win saat membuka gordin jendela kamarnya. Sejenak ia lupa dengan rasa kekecewaannya pada Bram saat terbangun dari tidurnya. Lalu Win bergeser melangkah ke meja rias tepat disamping tempat tidurnya, lalu ia memandang wajahnya sendiri yang sembab, terlihat bengkak matanya akibat menangis semalaman, saat itu juga Win teringat kembali dengan kejadian sore kemarin. Hati Win terus mepertanyakan Bram.

“Bram dimana dirimu? Bagaimana dengan hati ini selalu saja bertanya tentang kamu dan hatimu? apakah kamu masih selembut dahulu memintaku untuk menemani hari-harimu walau hanya sekedarnya saja. Kau datang dengan setangkai mawar merah, masih semerah itukah cintamu? Kini kau dimana sayang?"

Sesaat Win tersadar dari lamunannya lalu bergegas merapihkan kamar tidurnya, tiba-tiba terdengar suara dering pesan singkat dari handphonenya. Segera Win membukanya dan terlihat pesan singkat dari nomor yang tak dikenal. Dengan rasa penasaran Win membacanya.

"Win Sayang… Maafkan aku, sore itu aku tidak datang ke caffe. Kau pasti kesal, aku tahu itu. istri dan keluargaku tahu tentang hubungan kita dan kemarin aku pergi dari Jakarta, mertuaku memutasikan kerjaanku ke Jerman. Maafkan aku Win, aku harus meninggalkanmu dan lupakan tentang cinta kita… maafkan aku memilih istriku Win… Maafkan aku…"

« BRAAAAAAAAAK! Handphone Win langsung terjatuh, tak terelakkan lagi air mata Win langsung membanjiri pipinya, kekecewaan yang tak terbantahkan pada Bram. Bagaikan petir menyambar disiang bolong. Tersedu-sedu Win menangis.

"Bram kau Jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!” Teriak Win sekencang-kencangnya di dalam kamar sambil menangis.

Satu jam berlalu Win menangisi kekecewaan terhadap Bram. Lalu Win beranjak dari tempat duduknya melihat foto Bram dan langsung membantingnya. Tanpa mengulur waktu Win bergegas mengumpulkan foto-foto Bram dan barang-barang yang pernah diberikan Bram dan mengumpulkannya dalam kotak kardus, lalu ia membakarnya sampai habis tak ada yang tersisa. Win ingin mengubur perasaannya terhadap Bram.
Waktupun berlalu Win masih belum bisa melupakannya. Tetapi Win mulai menyadari bahwa semua ini adalah resiko yang harus diterima Win, mencintai Bram sekaligus menerima kehilangan cinta Bram. Berbagai macam aktifitas ia lakukan untuk sedikit demi sedikit melupakan kenangannya bersama Bram.

Waktupun bergulir, satu tahun kemudian.

Guratan senyum dibibir Win dan hati yang gembira saat membuka jendela di pagi hari. Menyambut pagi yang cerah burung-burung berkicauan, beterbangan diatas dahan menebar pesona dengan riangnya menambah suasana pagi begitu indah. Mataharipun tak lagi malu-malu bertegur sapa dengan alam. Secerah hati Win, sejak pagi Win sudah berpakaian rapi siap berangkat ke kantor untuk beraktifitas. Kini hati Win siap menatap kehidupan baru. Membulatkan tekad untuk melupakan kisah lamanya sebagai “selir hati” Bram. Bram adalah pelajaran terbesar bagi Win. menganggap Bram sebagai mimpi buruk bagi Win mungkin itu lebih baik. Tak mau lagi terjebak untuk yang kedua kalinya. Melaju menyusuri labirin kehidupan baru.

Tiba di kantor, mata Win terbelalak saat pandangannya tertuju pada setangkai mawar merah di atas meja kerjanya. Dahinya mengkerut perasaan bingung dan heran bergelayut di benak Win. Win membaca kartu ucapan yang terselip diantara batang wamar merah itu.

“Semoga pagi ini secerah hatimu Win”

Win kaget sekaligus senang setelah membaca nama pengirim yang tertera dalam kartu ucapan itu adalah “Ryan” Win hanya tersenyum simpul, dan membiarkan mawar merah itu berdiri tegak dalam pot mini di samping foto yang bertengger di meja kerjanya.

***







* Setiap orang yang kita temui di dunia ini membawa pesan untuk kita. Renungkan pesan apa yang Tuhan berikan untuk kita melalui mereka.

By: Novianti Suradji, S.S

Sabtu, 20 Februari 2010

Selir Hati: Catatan Hati Wanita Singgahan (I)


Malam minggu bagi sebagian anak-anak muda adalah malam terindah. Biasanya mereka menghabiskan malam panjang itu dengan pasangan masing-masing dan dengan cara meraka masing-masing. Tapi tidak bagi Win. Perempuan berparas cantik, energik dan supel itu masih saja mengurung diri dikamar sejak tadi sore. Ia menjatuhkan badannya di tempat tidur sambil menggenggam erat hand phonenya. Terdengar jelas alunan musik “selir hati” Ahmad Dhani dari hand phonenya yang diputar berulang-ulang.
……………………
Aku rela o aku rela
Bila aku hanya menjadi
Selir hatimu untuk selamanya
Ooo aku rela kurela…


Win masih saja menggenggam telfon selularnya, malam-malam sebelumnya ia biarkan telfon selularnya tergeletak dimana saja dan tidak terlalu mementingkannya. Menunggu pesan singkat dari lelaki yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya, merenda asmara dengannya, mungkin itu yang terjadi. Malam-malam sebelumnya biasa ia menghabiskan waktu dengan laptop kesayangannya, merampungkan cerita khayalannya dan menulis sesuatu yang membuatnya senang, sekedar menulis karna itu hobinya. Tapi lain dengan malam ini, otaknya masih saja sibuk memikirkan lelaki itu.

«ach… ntah apa yang aku fikirkan ini, Gila! Gila!... untuk apa aku memikirkan lelaki yang tak pernah ada di saat aku membutuhkannya? Oh God… Aku ini kenapa?... mulai merindukannyakah aku? O… tidak! Tidak! Perasaan ini tak boleh ada untuk lelaki itu! Ini hanya guyon, have fun!” teriak batin Win.

Lelaki itu bernama Bram. Lelaki yang mengisisi hari-harinya sejak 3bulan lalu, komitmen yang terjalin dan disepakati hanya sekedar “have fun” saja, ya… sekedar “have fun” saja. Layaknya pasangan pada umumnya, wajar bila mengungkapkan rasa suka, dan tak akan ada yang pernah bisa melarang untuk perasaan rasa suka dan kekaguman seseorang. Tapi ini lain baginya, suami temannya sendiri yang mengungkapkan rasa suka dan kekaguman itu padanya.

“O God… kali ini lelaki beristri yang menyatakan rasa suka padaku. Suami temanku sendiri. Cobaankah ini untukku?”
gumamnya dalam hati.

Perasaannya menolak saat itu, tapi Bram tetap memintanya untuk berkomitmen tanpa diketahui istrinya sendiri. Entah apa yang merasuki fikiran Bram untuk tetap berkomitmen dengannya. Berkomitmen dengan sembunyi-sembunyi. Waktupun berkisah, ia turuti kemauan Bram walau tak sepenuh hati. Dan ia berfikir mungkin ini hanya guyonnya Bram saja.

Waktu terus bergulir, hubungan asmarapun terjalin. Win dan Bram menyadari betul bahwa hubungan ini T-E-R-L-A-R-A-N-G. Pernah ia tawarkan pada Bram “Tinggalkan saja Aku Bram!” tapi Bram tetap memintanya untuk melanjutkan hubungan ini. Setiap pagi, siang dan sore tak pernah terlewatkan mengirimkan perhatian-perhatian sekedarnya lewat pesan singkat (SMS) saat jam kerjanya. Mulai dari sapaan hangat di pagi hari hingga menanyakan “akan pergi kemana? Dengan siapa?” selalu ia tanyakan. Melalui pesan singkat inilah hubungan terus terjalin. Dan komitmen awal yang hanya “have fun” saja kini berubah menjadi hubungan serius.

“Ya Tuhan... Aku TERJEBAAAAAAAK! Ya terjebak cinta Bram” teriak batin Win dengan menyesal.


Kini tak terbantahkan Win mulai menunggu kehadiran Bram lewat pesan singkat atau telfon darinya. Tak ada kata cemburu dalam komitmen ini bagi Win, karna ia hanya sebagai selir hati Bram. Ya… hanya selir hati yang siap menunggu kedatangan Bram kapan saja ia mau. Datang dan perginya Bram adalah resiko bagi Win. Win mulai cemburu dengan istri Bram yang menghalanginya saat ia membutuhkan Bram. Rasa sakit dan pedih itu yang selalu dirasakan Win saat Bram tak ada untuknya.

“Sakit… menahan rindu yang tak terbantahkan. Sakit… hati ini tak terobati” Sesalnya sambil menangis.

Seperti malam ini ia masih menunggu pesan singkat dari Bram sebagai pengantar tidur.



…To be continue…

Rabu, 23 Desember 2009

Sebentuk CINTA seorang MAMA...


Di suatu pagi...
Mataku terheran-heran pada sosok perempuan paruh baya memakai topi, berkaos merah, celana panjang krem dan berspatu sport, berdiri disudut kota berjejer dengan becak-becak. Kufikir ia hendak memesan becak untuk pergi kepasar. Dahiku mulai mengkerut saat melihatnya menaikan penumpang, ah... rupanya ia seorang penarik becakkah? Aku terkejut, apa iya zaman sekarang ada penarik becak perempuan? Alasan apa ia menarik becak? Banyak pertanyaan yang terbesit difikiranku.

Tak lama kulihat wanita paruh baya itu kembali ke tempat penarikan becak, terlihat ia sedang mengibas-ngibas wajahnya dengan topi yang dipakainya. Kuhampiri wanita itu karna terlihat tidak terlalu sibuk sepertinya.
Kucoba untuk menyapanya dan beberapa saat terjadi perbincangan antara kami.

“Bu, sudah lama narik becak?” sapaku sambil menyeruput teh manis panas yang dipesan di warung tempat istirahatnya para penarik becak.
“Sudah hampir 3 tahun Neng...” jawab wanita itu sambil mengunyah pisang goreng.
“Maaf bu kenalkan saya Sofie, nama ibu?” sapaku sambil mengulurkan tangan.
“Oh... ya, saya Marni Neng” jawab perempuan itu.
“Maaf bu, boleh saya tau kenapa ibu narik becak?”
“Yah... Neng buat nyambung hidup, biaya sekolah anak sekarang enggak murah, anak saya harus lulus sekolah Neng, saya tidak mau anak saya sama nasibnya kayak ibunya ini,”
“Memang anak ibu ada berapa?” tanyaku lagi.
“Anak saya 3 Neng, anak pertama saya sudah bekerja bantu-bantu di toko lumayanlah dia anak soleh mau bantu biaya adik-adiknya sekolah, anak kedua saya masih sekolah SMA kelas 3 sebentar lagi lulus sekolahnya, yang bontot masih SMP kelas 2 Neng,” dengan mengalir ia menceritakan.

“Oh... trus bapaknya Bu?”
“Bapaknya 3 tahun lalu minggat dari rumah, menurut kabar terakhir dari temennya dia kawin lagi sama janda kembang di RW sebelah, gak kuat kali neng hdup kita miskin terus heee...” sambil tertawa geli perempuan itu bercerita terlihat jelas tawanya menyembunyikan kesedihan yang selama ini terpendam. Tak lama kemudian iapun meneruskkan ceritanya.
“Dulu hidup kita enak Neng bapaknya kerja jadi mandor tapi keburu kepincut sama tu jande Neng...” dengan logat betawinya dia bertutur.
“Terus Ibu gak nyari kerjaan yang lain selain narik becak?” tanyaku dengan rasa penasaranku akan kehidupan perempuan ini terus bercokol.
“Udah neng... ya Ibu kalo dah cape narik becak, pulang ke rumah sambil ngerjain kerjaan laen... nyuci dan setrika baju tetangga Neng, kalo gak gitu dari mana saya bisa ngasih anak-anak saya makan Neng... upah narik becak belum cukup buat makan seminggu” sambil meluapkan isi hatinya perempuan itu bertutur.

“Maaf bu saya terlalu lancang tanya-tanya soal kehidupan Ibu...” sambil menundukan kepala aku meminta maaf.
“Ah gak apa-apa Neng...”
“Permisi neng saya harus narik lagi..” sambil berlalu ia pergi.
“Oh... silahkan bu.”
***
Ehm... ironis memang kehidupan ini kadang keinginan tak sesuai dengan realita. Seperti halnya Marni, perempuan seusianya banyak menghabiskan waktu dengan shooping, arisan , jalan-jalan ke mall dll, ah... beda sekali dengan wanita ini dia harus bekerja keras banting tulang, bekerja dari pagi buta sampai petang merayap. Tak kenal lelah ia terus mengayuh becaknya untuk memngantarkan penumpangnya sampai tempat tujuan yang diinginkan. Membawa penumpang sampai tempat tujuan adalah sebuah kegembiraan untuknya, karena darinya ia akan mendapatkan upah untuk bekal yang akan dibawa kerumah supaya anak-anaknya bisa bertahan dalam memperjuangkan cita-citanya.

Memperjuangkan anak agar tetap sekolah, mungkin itu sepertinya biasa saja, tapi tidak bagi Marni hal tersebut sesuatu hal besar yang harus ia perjuangkan, keringat bercucuran tanda nyata seorang perempuan yang berperan sebagai IBU untuk anaknya, bukti cinta seoang Ibu yang tak pernah padam dimakan zaman. Tak kenal lelah untuk terus berjuang demi buah hatinya. Ah... Ibu... Ibu... kasih ibu memang tiada terhingga...


“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia...”


NB: Tulisan ini didedikasikan untuk seorang Mama yang selalu memberikan cinta sepenuh hati untuk buah hati tercinta.

SELAMAT HARI IBU 22 Desember 2009

TENTANG PERFECT

“Okta, nyanyiin kakak satu lagu donk,” pinta Asti sambil berjalan menuju rumahnya melewati rumah Okta persis didepan rumahnya.
“Ih kakak… ngagetin aja, apa? Nyanyi? Ye… kakak kayak anak kecil neh… mau dinyanyiin lagu apa kakakku sayang he he he….,” jawab Okta dengan menantang sambil memuji.
“Emm… apa aja dech, yang enak-enak lagunya, yang penting Okta yang nyanyi he he he he,” Tawa Asti sambil merayu.
Oke dech… nanti aku nyanyiin plus catetin syairnya,” jawab Okta memenuhi permintaan Asti.
“Oke dech…ditunggu lho...,” Jawab Asti menanggapi.
“Siiiiip…,” Okta menyetujui sambil menunjukan jempolnya.

Okta: Gadis remaja kelas tiga SMP berperawakan mungil, parasnya yang cantik, imut dan selalu ceria. Tinggal tepat di depan rumah Asti. Di Sore beberapa hari yang lalu Okta mengingatkan Asti akan janjinya memberikan sekaligus menyanyikan syair lagu yang Asti pinta. Asti memintanya karena setiap hari Asti memndengarkan suara merdunya Okta menyanyikan lagu favorit Asti. Selain itu juga karena Okta memang anggota ekstrakulikuler vocal disekolahnya.
***

Sepulangnya Asti dari tempat kerja, Okta menyapanya sebelum Asti nmasuk rumah.
“Kak… tuh catetan lagunya dah aku tulis, aku titip lewat Mbo Sumi di rumah, pokoe lagunya aku pilih yang bagus buat kakak dech...,” jelas Okta dengan gaya cerewetnya.
Lagu siapa ta?” tanya Asti.
“Lagunya “Simple Plan” judulnya PERFECT, bagus lho ka…,” Okta menjelaskan dengan semangat.
“Oke dech, makasih ya ta…,”
“Yoyoi..”

Saat Asti memasuki kamar jelas pandangan matanya tertuju pada secarik kertas terlipat rapi layaknya kiriman surat cinta he he... kertas itu dari Okta”. Asti melihat syairnya dan menyanyikannya walaupun dengan nada fals dan lupa-lupa ingat. Ada beberapa bait yang membuatnya terhanyut dalam lamunan lalu terdiam:

And now i try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enaught for you
Can prented that i’m alright
And you can change me

Coz we lose it all
Nothing last forever
I’m sorry i can’t be perfect
Now it just to late and we can’t go back
I’m sorry i can’t be perfect


Pada bait ini menjelaskan bahwa yang terbaik seorang anak yang mencoba berbuat agar ayahnya bangga. Dan pada bait kedua menerangkan bahwa anak ini meminta maaf karena tidak bisa sempurna seperti apa yang diinginkan ayahnya.
***

Emm... berbicara tentang perfect alias sempurna. Apa? Siapa? Yang seharusnya sempurna? Sebagai makhlukNya kita memang tidak pernah diciptakan sempurna. Yang sempurna hanyalah Dia yang Maha sempurna. Dialah Allah, diantara makhlukNya, manusialah yang paling sempurna dan mulia diciptakan. Sempurnanya manusia masih terlalu jauh maknanya dengan sempurnanya yang Maha sempurna, bahkan tidak dapat dibandingkan kesempurnaanNya. Seperti dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110 :

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia...”

Setiap manusia bisa dikatakan “Sempurna” jika mengetahui ketidak sempurnaannya dan saling melengkapi antara ketidak sempurnaannya. Manusia sempuna karena memiliki akal untuk berfikir, dengan berfikir akan timbul rasa saling membutuhkan satu sama lainnya. Merasa butuh dan saling melengkapi adalah kesempurnaannya manusia. Allah sempurna karena Allah yang memiliki dunia beserta isinya termasuk manusia. “Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi maka terjadilah ‘Kun Fayakun’”. Segala sesuatu bergantung padaNya termasuk manusia yang selalu bergantung padaNya, tak henti setiap tarikan nafas dan detak jantung manusia semua adalah kehendakNya.

Maka, kepada yang Maha Sempurnalah kita memohon kesempurnaan manusia itu sendiri. Semoga kita menjadi hamba yang sempurna dalam menghambaNya. Amien.
***

Ups... sesaat Asti terdiam dan menyunggingkan guratan senyum simpulnya setelah melihat bait syair lagu yang dikirim Okta...

Jumat, 20 November 2009

Ah… Bapak…


“Baru saja berakhir…
Hujan di sore itu
Menyisakan keajaiban
Indahnya kilauan pelangi”


Emmm… suara berisik yang membangunkan tidurku itu lagu “Sahabat kecil” yang dinyanyikan Ipank pada sountrack film “Laskar Pelangi” ternyata ringtone Hand Phone (Hp) ku yang berdering. Tepat di bawah bantalku. Ku rogoh Hpku dan kulihat dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. O… disana terdaftar nama “My Father”. Mataku semakin terbelalak setelah melihat jam tepat pukul. 03:00 dini hari.

“Lho… kenapa Bapak jam segini nelfon ya…” gumam dalam hati.
“Hallo… Assalamu’alaikum Pak” Jawabku dengan suara serak, terdengar jelas aku yang baru terbangun dari tidur.
“wa’alaikum salam… anakku yang cantik, pinter, bangun ayo tahajud…” Sapa Bapakku di ujung telfon.
“He he… iya Pak” Aku menjawab dengan nada lemas yang masih terkantuk-kantuk.
”Jam segini ko masih tidur, ayo tahajud nak!!!! Banyak-banyak berdo’a supaya dilancarkan kariernya, didekatkan jodohnya” Bapakku memberi saran.
“He… Iya pak… Ok Ok!!!” Aku menyetujuinya sambil mengangkat dahiku yang sebenarnya malas untuk tahajud he he he, ngantuk adalah alasan utama.
Tapi Bapakku tetap saja merajuk supaya aku bangun dari tidurku.

“Ayo cepat ke kamar mandi ambil wudlu, tahajud ya nak!!!” Perintah bapakku.
“ Iya pak…” Jawabku.
“Ya sudah cepat shalat ya, Assalamu’alaikum” Bapakku mengakhiri obrolannya.
“wa’alaikum salam” Jawabku sambil kutekan tombol merah Hpku untuk mengakhiri obrolan.
***

Emmm… Bapak, bapak… aku jadi kangen sama bapakku. Bapakku asli orang Jawa. Purwokerto. Berwatak keras dan gigih dalam bekerja. Sejak muda bapakku merantau ke kota Priangan. Bandung. Mendapatkan jodoh orang Priangan juga. Tahun 1982 memulai kariernya di Bandung sampai medapatkan 5 putri, putri pertama ya aku ini.

Tahun 2008 karier bapakku terhenti alias di PHK. Ya maklumlah berkarier di pabrikan mau tidak mau harus terima PHK-an. 3 bulan mengangur (alhamdulillah mengangur Cuma 3 bulan), ternyata skill bapak di bidang mesin rajut masih ada yang membutuhkan. Tepat di bulan Desember 2008 bapak dapat panggilan kerja di perusahaan yang membuat kain khusus boneka di Serang Banten. Tanpa fikir panjang bapak langsung menerima panggilan kerja tersebut, karena yang selama ini bapak khawatirkan mengenai Ijazah untuk melamar pekerjaan sangat dibutuhkan. Sedangkan bapakku? Jangankan Ijazah S1, Ijazah SMP saja tidak punya. Maklumlah dulu bapak Cuma tamatan sekolah SR (Sekolah Rakyat).

Bapakku sering bilang:
“Pendidikan boleh tamatan SR… tapi otak harus otak S1 tho…”
“Badan boleh made in Indonesia tapi otak? harus otak Jerman donk ha ha ha…” dengan logat Jawanya yang medok dan Pedenya, begitulah bapakku dengan nada sindiran menyemangati anak-anaknya setiap pertemuan rutin keluarga, dan selalu begitu juga bapakku menyindir sambil bergurau.

Kata-kata itupun selalu menjadi andalan bapak untuk menyemangati putri-putrinya supaya terus semangat untuk melanjutkan studi. Mengingat bapakku yang hanya tamatan SR dan bercita-cita menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai lulus S1.

Ah… bapak meski usia merayap senja tapi bapakku ini ya tetep guanteng he he… kini bapakku bekerja di Serang Banten jauh dari rumah, hanya alat komunikasi hp yang memudahkan kami berkomunikasi sehinnga satu sama lainnya mengetahui kegiatan masing-masing anggota keluarga kapan saja dibutuhkan.

Ah… Bapak My Beloved father…
Ah… Bapak aku kangen pak…

Mungkin lebaran haji nanti kita bersua di rumah…


Nb: Tulisan ini buat my beloved bapakku wong Jowo "Dartam Suradji"

Sabtu, 07 November 2009

Kabar "MOMOYE" dari Asrama Telawang


Wanita senja itu bernama Mardiyem, kini ia mulai membuka hatinya pada wartawan yang ingin mencari berita tentang sejarah Jugun Ianfu (budak seks) 64 tahun silam. Pada awalnya Mardiyem enggan untuk menceritakan apa yang terjadi saat ia dan teman-teman yang lainnya (3 angkatan Jugun Ianfu) menjadi penghuni asrama Telawang sejak tahun 1942-1945 pada masa penjajahan Jepang dalam perang Dunia II terjadi. Kulit keriput namun berparas ayu menunjukkan usianya yang senja dan tubuh yang renta berbalut kebaya dari kain jarik khas jawa itu sesaat menghela nafas, lalu matanya berkaca-kaca saat menceritakan apa yang terjadi selama menjadi penghuni asrama Telawang. Ia merasakan kepedihan yang sangat mendalam, kepedihannya mewakili perasaan para Jugun Ianfu.

Saat itu Mardiyem berusia 13 tahun. Sepeninggalan ayahnya ia memutuskan pergi dari rumahnya di Yogyakarta ke Borneo untuk bekerja, ia bertekad untuk tidak menjadi beban kakak-kakaknya yang kehidupannyapun sangat sulit. Dan pada saat itu ia mendapat tawaran bernyanyi di Borneo. Tanpa fikir panjang ia menerima tawaran tersebut. Bukan hanya Mardiyem yang akan bekerja di Borneo, ternyata ia pergi bersama rombongan perempuan lainnya dari berbagai daerah.

Sebelum diberangkatkan ke Borneo rombongan dibawa ke kampung Penembahan Yogyakarta dan ditempatkan ke sebuah klinik, kemudian rombonganpun satu persatu diperiksakan kesehatannya oleh dokter. Didalam klinik tersebut terdapat seorang Dokter dan seorang asisten, dan satu orang Jepang pada saat itu Mardiyem mulai curiga dan merasakan adanya keanehan. Setelah sampainya di Borneo Mardiyem merasakan firasat buruk akan terjadi, kemudian Mardiyem dan rombongan ditempatkan di sebuah bangunan yang cukup tertata rapi, disana banyak orang Indonesia yang tampaknya berperan sebagai petugas atau pekerja. Bangunan itu bernama Asrama Telawang. Selain banyak orang Indonesia ternyata disana juga orang banyak Jepang. Mardiyem dan rombongan teman-teman yang lainya di tempatkan disetiap kamar berukuran 3m x 2,5 m, dan setiap pintu kamar terdapat nomor yang berurutan sesuai dengan banyaknya kamar dari nomor 1 sampai nomor 24. Saat itu Mardiyem menempati kamar 11.

Firasat buruk itu mulai terbukti, Mardiyem dan teman-teman yang lainnya merasa akan dijadikan “perempuan nakal”, kekecewaan menggelayuti hati mereka saat itu, padahal pada awal keberangkatan dari Yogyakarta menuju Borneo Mardiyem dan teman-teman yang lainnya membawa banyak harapan dan impian, rela meninggalkan rumah demi mendapatkan kehidupan yang layak untuk keluarga dikampungnya. Mardiyem berharap menjadi penyanyi di Borneo sesuai dengan tawaran yang dijanjikan Zus Lentji (ia seorang perempuan yang dikenal Mardiyem melalui Mbak Soerip) dengan rasa berat hati Mardiyem pasrah terhadap apa yang terjadi. Bukannya tidak ada pemberontakan untuk keluar dari asrama itu, akan tetapi asrama Telawang dijaga dengan ketat dan diawasi oleh para Jongos (pesuruh) Cikada, dari mulai gerbang utama sampai kamar-kamar yang mereka tempati. Pada hari liburpun biasanya mereka pergi berbelanja dengan dikawali para jongos cikada. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk melarikan diridari asrama ini.
Asrama telawang dikelola oleh orang jepang bernama Cikada. Dia yang mengatur segala keperluan penghuni asarama Telawang, dibantu dengan para Jongos-nya dari mulai mengatur kesejahteraan para pegawai dan kesejahteraan para Jugun Ianfu, ia juga mengatur keluar dan masuknya para tentara Jepang yang ingin melampiaskan hawa nafsunya di asrama Telawang pada gadis-gadis yang telah ditempatkan di setiap kamar. Para tentara Jepang memesan nama dan nomor kamar yang tertera di papan dengan tulisan Jepang di ruang karcis asrama Telawang, nama yang tertera di papan tersebut berikut dengan nomor kamarnya adalah para Jugun Ianfu yang sehat dan siap untuk melayani seks mereka, kemudian mereka diberikan karcis untuk masuk kamar sesuai dengan nomor kamar yang telah dipesan dan ditambah 2 Kaputjes untuk 1x masuk kamar.

Sejak menempati asrama Telawang nama Mardiyem berubah menjadi “MOMOYE”. Saat itu nama Momoye yang berparas hitam manis dibalut dengan kebaya dari bahan kain jarik khas jawa nampak lebih ayu menjadi sorotan para tentara Jepang, dan tidak aneh seluruh penghuni asrama telawang mengenali MOMOYE. Walaupun Momoye melayani nafsu para tentara Jepang setiap harinya, tapi Momoye selalu merawat tubuhnya terutama merawat kelaminnya dengan minum jamu agar tidak terserang penyakit kelamin tau penyakit wanita yang diberikan oleh ibu angkat Momoye, namanya ibu Nur. yang berbaik hati pada Momoye dengan sembunyi-sembunyi.

Setiap harinya Momoye dan teman-teman yang lainnya mendapat perlakuan kasar dari para tentara Jepang yang ingin memuaskan nafsunya dengan para Jugun Ianfu. Yang sering memperlakukan kasar saat berhubungan intim adalah tentara Jepang yang berpangkat rendah yang baru datang dari pertempuran atau baru pulang dari patroli, karena usia mereka rata-rata masih muda sedangkan yang berpangkat tinggi atau sipil tidak berlaku kasar. Para tentara yang datang ke asrama Telawang adalah sebagai tamu. Dan tamu yang datang tidak sembarangan diizinkan untuk masuk ke kamar-kamar. Jam kunjungan berlaku di asrama tersebut, adapun jam tamu siang hari pada pukul 12.00–17.00 khusus untuk serdadu pangkat rendah Jepang dengan karcis seharga 2,5 Yen. Dan jam tamu sore hari pukul 17.00–24.00 khusus untuk orang sipil Jepang dengan harga krarcis 3,5 yen. Sedangkan Mulai pukul 24.00 sampai pagi dikenakan karcis seharga 12,5 Yen. Pada jam tersebut biasanya dipakai oleh serdadu Jepang berpangkat perwira.

Momoye pernah mengalami pengguguran paksa terhadap kandungannya, selama melayani seks para tamu tentara Jepang, mereka menggunakan Kaputjes, hanya satu tamu tetap Momoye yang tidak mggunakan kaputjes yaitu Yamauchi. Yamauchiadalah laki-laki pertama yang menyatakan cinta pada momoye. Dari hasil hubungannya tanpa diduga akhirnya Momoye hamil, awalnya berita ini ditutupi agar tidak diketahui Cikada namun akhirnya sampai juga ke telinga Cikada. Momoye disarankan meminum obat penggugur kandungan, namun setelah satu minggu berlalu bayi dalam kandungan Momoye tidak mau keluar, Cikadapun memutuskan untuk membawa Momoye ke Rumah Sakit Ulin untuk dioperasi karena kehamilannya sudah menginjak 5 bulan dan perutnya mulai terlihat membesar. Setelah perut Momoye diplenet atau ditekan paksa, seluruh badannya sakit dan lemas. Momoye merasa sangat berdosa karena tidak bisa mempertahankan darah daging sendiri. Yamauchi sempat menengok Momoye di rumah Sakit Ulin, dia meminta maaf karena membuatnya menderita dengan kehamilannya. Karena Yamaucilah penyebab Momoye hamil dan digugurkan paksa. Yamauchi memang meninginkan Momoye hamil agar Momoye bisa dikeluarkan dari asrama Telawang, sehingga Momoye dan Yamauchi bisa menikah dan hidup bersama. Itulah alasan Yamauchi jarang menggunakan Kapotjes saat berhubungan seks dengan alasan kurang nikmat.

Pada tahun 1945 Jepang kalah. Di beberapa bulan pada tahun 1945, sering terdengar bunyi bom berjatuhan di sekitar asrama. Situasi makin gawat. Bom dijatuhkan dimana-mana, Cikada dan orang-orang Jepang lainnya menghilang. Akhirnya Momoye memutuskan untuk mengungsi ke Kapuas. Disana Momoye bertemu dengan Amat Mingun. Amat Mingun adalah laki-laki yang selama ini menaruh hati pada Momoye sejak berada di asrama telawang. Saat itu Amat mingun bertugas mengantarkan sayuran ke asrama Telawang untukkebutuhan penghuni asrama Telawang. Amat Mingun melamar Momoye berkali-kali namun Momoye menolaknya. Momoye mati rasa setelah ia mengalami trauma di asrama Telawang. Pada tahun 1946, akhirnya Momoye memutuskan untuk menrima lamaran amat mingun kemudian menikah, meskipun tidak ada perasaan cinta yang tersisa, semuanya telah hancur di Asrama Telawang. Momoye tidak mencari cinta yang ada hanya butuh kasih sayang dan perlndungan. Pernikahannya dengan Amat Mingun dikaruniai satu anak lelaki bernama “Mardiyono”.

Pada tahun 1953 Momoye dan keluarga kembali pulang ke Yogyakarta. Di Yogyakarta nama Mardiyem bukanlah Momoye lagi, akan tetapi para tetangga yang mengenal Mardiyem memanggilnya dengan sebutan Mak Inun. Sebetulnya nama Mardiyem di kampung adalah Mak Mingun, tetapi Mardiyono kecil tidakbisa memanggil nama Mak Mingun dengan jelas. Jadi yang terdengar hanya Mak Inun… Mak Inun… dan semua tetangga memanggilnya Mak inun.

Pada tahun 1993 Mardiyem memutuskan untuk mendaftar sebagai perempuan korban Jepang di LBH Yogyakarta. Sejak saat itu masalah mulai berdatangan. Ketika masyarakat tahu bahwa Mardiyem adalah salah satu wanita pemuas seks para tentara Jepang (Ransum Jepang) mereka mulai mencibir, mengejek, menjauhi Mardiyem dalam pergaulannya. Sejak saat itu juga keahliannya dalam memasak pada setiap acara tidak pernah diberikan upah bahkan tidak jarang untuk menggunakan jasanya lagi, sampai Mardiyem kehilangan pekerjaannya. Hal itu membuatnya sangat menderita.

Penghinaan demi penghinaan ia lewati sampai tahun 2000. suatu ketika dalam sebuah acara kemerdekaan panitia acara tersebut memintanya utuk menceritakan yang sebenarnya terjadi dan dialami pada zaman penjajahan Jepang dalam Perang dunia II. Saat itu Mardiyem bersedia. Pada pertemuan tersebut Mardiyem mengatakan “Jangan mencapku sebagai “Orang nakal” atau “Pelacur”. Aku adalah korban jepang. Pada waktu zaman Jepang tidak ada pilihan lain bagi para remaja selain menjadi ransum Jepang atau romusha”. Maka setelah pernyataan Mardiyem diceritakan, Masyarakat mulai berubah, tidak lagi banyak yang mengejek dan menjauhinya, keadaanpun mulai membaik.

Pada tahun 2007 tepatnya tanggal 20 Desember pukul 22:30 WIB, pejuang hak dan mantan “Jugun Ianfu” ini meninggal dunia karena sakit dikediamannya Suryotaruman Yogyakarta. Jugun Ianfu adalah salah satu kepahitan sejarah yang lama terlupakan. Bahkan mungkin tidak akan pernah terungkap jika Mardiyem tidak ingin menceritakan semuanya yang terjadi.

Inilah salah satu potret kehidupan korban penjajahan Jepang dalam Perang Dunia II. Ini adalah BUKTI SEJARAH dan tidak boleh dilupakan, karena kita adalah bagian dari sejarah itu sendiri.

By:
Novianti Suradji, S.S




NB:
Tulisan ini didekasikan untuk semangat para perempuan yang tak pernah lelah berjuang dalam menjalani perannya sebagai “PEREMPUAN”.

Resensi Buku



Judul Buku : MOMOYE Mereka Memanggilku; Biografi Sejarah Jugun Ianfu Indonesia.
Penulis : Eka Hindra dan Koichi Kimura
Editor : Esthi Damayanti & Theresia Vini S
Penerbit : Esebnsi Erlangga Group, Jakarta
Cetakan : Kedua, Tahun 2007
Tebal : 324 Halaman

MOMOYE alias Mardiyem (mantan Jugun Ianfu Indonesia) adalah salah satu korban penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Kesedihannya saat menjadi ransum (makanan) Jepang masih saja terbayang-bayang dalam fikirannya. Hal itu yang menyebabkan Mardiyem terus mencari keadilan pada Pemerintah Jepang sampai akhir hayatnya.
Menjadi Jugun Ianfu bukanlah cita-cita yang diinginkan Mardiyem, bahkan jauh dalam fikirannya Mardiyem tidak pernah terlintas untuk menjadi Jugun Ianfu. Secara harfiah “Jugun Ianfu” berarti: Ju= Ikut, Gun= Militer/balatentara, Ian= Penghibur, dan Fu= Perempuan. Jugun Ianfu merupakan istilah halus untuk para perempuan-perempuan yang dipaksa bekerja sebagai budak seks yang ditempatkan dibarak-barak militer atau bangunan yang dibangun di sekitar markas militer Jepang selama perang Asia Pasifik.

Awal perjalanan Mardiyem menjadi Jugun Ianfu pada tahun 1942, saat itu umurnya 13 tahun. Ia memutuskan pergi dari Yogyakarta untuk bekerja di Borneo sepeninggalan ayahnya. Kepergiannya ke Borneo adalah awal penderitaannya. Menjadi pemain sandiwara, itulah cita-citanya. Melalui Zus Lentji Mardiyem mendapatkan tawaran untuk menjadi pemain sandiwara. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Sesampainya di Borneo Mardiyem bukan dijadikan pemain sandiwara, bahkan tidak sesuai dengan yang ditawarkan Zus Lentji. Mardiyem dan para Jugun Ianfu lainnya menjadi ransum Jepang melayani kebutuhan seks para militer Jepang di asrama Telawang.

Para Jugun Ianfu melayani kebutuhan seks mereka setiap harinya, dan setiap orang ‘Jugun Ianfu” melayani 6 atau 8 orang tentara Jepang, jika meraka tidak mau melayaninya maka siksaanlah yang akan didapatnya dari pengelola asrama Telawang bernama Cikada. Penderitaan ini berlangsung selama 4 tahun 1942-1945.
Nama Mardiyem selama menjadi penghuni asrama Telawang berubah menjadi MOMOYE, mulai saat itu penghuni asrama memanggilnya MOMOYE, dan nama Mardiyem hilang ditelan asrama Telawang.

Setelah Jepang kalah, aktifitas di asrama Telawang tidak begitu ramai seperti biasanya, orang Jepang mulai hilang dan tidak pernah datang ke asrama telawang. Mardiyempun pergi dari asrama Telawang menuju Kapuas disana mardiyem bertemu dengan Amat Mingun yang menjadi suaminya, dari pernikahannya melahirkan 1 orang anak lelaki bernama Mardiyono. Kemudian Mardiyem dan sekeluarga kembali pulang ke yogyakarta.

Pada tahun 1993 Mardiyem mendaftarkan diri ke LBH Yogyakarta sebagai perempuan korban penjajahan Jepang. Sejak saat itu masyarakat tahu tentang masa lalu Mardiyem dan tak jarang masyarakat banyak yang menjauhi, mengejek, dan menghinanya. Penghinaan demi penghinaan ia lewati sampai tahun 2000, Mardiyem menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada para Jugun Ianfu saat penjajahan Jepang dalam sebuah acara kemerdekaan yang diminta oleh panitia acara tersebut. Setelah Mardiyem menceritakan semuanya, masyarakatpun akhirnya mengetahui apa yang terjadi pada Mardiyem dan para Jugun Ianfu lainnya. Masyarakat mulai berubah sikap dan sejak saat itu keadaanpun mulai membaik.

Buku ini secara gamblang menceritakan sejarah Jugun Ianfu korban penjajahan Jepang dalam perang dunia II pada tahun 1942-1945. Melalui penuturan Mardiyem (salah satu mantan Jugun Ianfu) ia menceritakan masa lalunya sebagai penghuni asrama Telawang. Dari mulai masa kecil seorang Mardiyem, keberangkatannya menuju Borneo, kehidupannya di asrama Telawang, dan sampai pada pencarian keadilan para jugun Ianfu. Buku ini benar-benar lengkap memaparkan informasi kejadian dengan didukung gambar dan foto-foto dari narasumber yang bersangkutan.

Namun pada akhir buku ini tidak menceritakan secara utuh akhir dari perjalanan Mardiyem dalam mencari keadilan. Pada bab akhir buku ini dilengkapi pemaparan penulis tentang asal-usul pendirian sistem Jugun Ianfu.

Buku ini sangat membantu para pembaca yang tidak mengetahui sama sekali informasi tentang Jugun Ianfu. Atau bahkan menjadi referen tambahan bagi yang ingin mengetahui sejarah penjajahan Jepang pada perang Dunia II. Dan kemunculan buku ini patut diacung-i jempol dan dihargai sebagai referen tambahan dan menu wajib bacaan bagi para Nasionalis atau terutama bagi para perempuan yang tetap semangat memperjuangkan haknya sebagai perempuan.

Sejarah bukan untuk dilupakan karena kita lahir dan hidup dari sejarah itu sendiri.

By:
Novianti Suradji (vhie_suradji@yahoo.co.id)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Pujangga itu tiada...

SLAMAT JALAN
“SI BURUNG MERAK”


Jum’at Siang, 7/8/2009
By: Vhie


Kini kau tiada
Kini kau tak lagi berdiri tegak
Kini kau hilang dalam pandangan
Kini kau tak bersama
Kini kau dalam pusara
Pekik garangmu tak terdengar lagi
Kehadiranmu tak akan ada lagi
Namun semangatmu akan tetap selalu terpatri
Innalillahi wa innailaihi rojiun
Tenanglah kau di sana Rendra
Slamat jalan si Burung Merak…





Dia RENDRA…

Jum’at Pagi 7/8/2009
By: Ifiet


Dia memang pergi,
Dia memang tlah tiada,
Dia pulang ke pangkuan-Nya
Namun karyanya tak kan pernah mati
Se- la- ma- nya
Selamat jalan WS Rendra
Semangat jiwamu akan tetap hidup untuk kami…

Minggu, 02 Agustus 2009

Puisi lagi...

USAI...
Minggu, 9 Nov 2008

Sudah ku duga semua hampir usai bahkan berakhir
Ceritanya biasa saja
Berawal dari kesenangan hati
Bagai orang yang mencari barang hilang,
Sulit memang untuk menemukannya
Namun keyakinan hati terus mendorong kepastian untuk menemukannya
Dengan penuh harap asa pun kian mendekat
Namun keraguan tetap bersarang dalam dada
Apakah benar ia yang ku cari selama ini?
Alam menghakimiku dengan tawaan sinis, tapi egoku mengalahkan semuanya dan
Aku terus berjalan untuk mewujudkan semuanya
Tak ku sangka asa pun ku raih, hatiku tetap merasa biasa saja padahal menutupi rasa senangku yang tak ingin berujung kekecewaan.
Hari-hariku pun kini berbeda karna aku tlah temukan apa yang aku cari...
Ku rajut hari-hari dengan penuh cinta, ku rawat dengan kasih sayang
Rasa senang pun ikut hadir dalam helaan nafasku...
***
Rajutan itu hampir sempurna, tak terfikir oleh manusia bahwa semua tak ada yang abadi begitu pula dengan rajutan yang telah ku rawat dan ku simpan dengan baik-baik semua hancur karna ego yang menggunung...
Kini rajutan itu hanya sebuah sampah dan hanya ingatan sekedar
Kurelakan semua menjadi abu dan debu...
Semua usai...



By: Novianti Suradji

Abdullah Gymnastiar dalam renungannya “CERMIN DIRI”

Tatkala kudatangi sebuah cermin
Tampak sesosok wajah yang telah kukenal dan sangat sering kulihat
Namun aneh sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat
Tatkala ku tatap wajah, hatiku bertanya…
Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya, bersinar di surga sana?
Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka jahanam?

Tatkala ku tatap mata, nanar hatiku bertanya
Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan menatap Allah, menatap Rasulullah, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, terburai menatap neraka jahanam? Akankah mata penuh maksiat ini menyelamatkan? Wahai mata… apa gerangan yang kau tatap selama ini?...

Tatkala ku tatap mulut, apakah mulut ini yang kelak akan mendesah penuh kerinduan mengucap
لااله إلاّ الله
Saat sakarotul maut menjemput, ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur dengan lengking jeritan pilu yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar? ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zakun jahanam yang getir penghangus, penghancur setiap usus?
Apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang? Berapa banyak dusta yang kau ucapkan, berapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu yang palsu yang kau ucapkan untuk menipu? Betapa jarang engkau jujur, betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Tuhan mengampunimu...

Tatkala ku tatap tubuhku...
Apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya bersinar, bersuka cita, bercengkrama di surga? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar? membara terpasung tanpa ampun? derita yang tak pernah berakhir? Wahai tubuh...
Berapa maksiat yang engkau lakukan?
Berapa banyak orang-orang yang kau dzalimi dengan tubuhmu?
Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang kau tindas dengan kekuatanmu?
Berapa banyak beribu pertolongan yang kau acuhkan tanpa peduli padahal kau mampu?
Berapa banyak hak-hak yang kau rampas wahai tubuh? Seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu? Atau sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu? Atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu? Atau sebusuk kotoran-kotoranmu?
Betapa beda apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi
Aku telah tertipu...
Aku tertipu oleh topeng...
Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng-topeng belaka
Betapa yang ujian terhambur hanyalah menguji topeng
Betapa yang indah hanyalah topeng
Sedangkan aku hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus
Aku tertipu aku malu.... ya Allah
Aku malu...
Tuhanku selamatkan aku...
Ya Rabbii selamatkan aku... Amien ya Rabbal’alamin...




Nb: Dinukil dari intro nasyid “Star 5”