"Seorang Muslim, harus sama baiknya antara membaca dan menulis"
(Hasan Al-Bana)

Sabtu, 07 November 2009

Resensi Buku



Judul Buku : MOMOYE Mereka Memanggilku; Biografi Sejarah Jugun Ianfu Indonesia.
Penulis : Eka Hindra dan Koichi Kimura
Editor : Esthi Damayanti & Theresia Vini S
Penerbit : Esebnsi Erlangga Group, Jakarta
Cetakan : Kedua, Tahun 2007
Tebal : 324 Halaman

MOMOYE alias Mardiyem (mantan Jugun Ianfu Indonesia) adalah salah satu korban penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Kesedihannya saat menjadi ransum (makanan) Jepang masih saja terbayang-bayang dalam fikirannya. Hal itu yang menyebabkan Mardiyem terus mencari keadilan pada Pemerintah Jepang sampai akhir hayatnya.
Menjadi Jugun Ianfu bukanlah cita-cita yang diinginkan Mardiyem, bahkan jauh dalam fikirannya Mardiyem tidak pernah terlintas untuk menjadi Jugun Ianfu. Secara harfiah “Jugun Ianfu” berarti: Ju= Ikut, Gun= Militer/balatentara, Ian= Penghibur, dan Fu= Perempuan. Jugun Ianfu merupakan istilah halus untuk para perempuan-perempuan yang dipaksa bekerja sebagai budak seks yang ditempatkan dibarak-barak militer atau bangunan yang dibangun di sekitar markas militer Jepang selama perang Asia Pasifik.

Awal perjalanan Mardiyem menjadi Jugun Ianfu pada tahun 1942, saat itu umurnya 13 tahun. Ia memutuskan pergi dari Yogyakarta untuk bekerja di Borneo sepeninggalan ayahnya. Kepergiannya ke Borneo adalah awal penderitaannya. Menjadi pemain sandiwara, itulah cita-citanya. Melalui Zus Lentji Mardiyem mendapatkan tawaran untuk menjadi pemain sandiwara. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Sesampainya di Borneo Mardiyem bukan dijadikan pemain sandiwara, bahkan tidak sesuai dengan yang ditawarkan Zus Lentji. Mardiyem dan para Jugun Ianfu lainnya menjadi ransum Jepang melayani kebutuhan seks para militer Jepang di asrama Telawang.

Para Jugun Ianfu melayani kebutuhan seks mereka setiap harinya, dan setiap orang ‘Jugun Ianfu” melayani 6 atau 8 orang tentara Jepang, jika meraka tidak mau melayaninya maka siksaanlah yang akan didapatnya dari pengelola asrama Telawang bernama Cikada. Penderitaan ini berlangsung selama 4 tahun 1942-1945.
Nama Mardiyem selama menjadi penghuni asrama Telawang berubah menjadi MOMOYE, mulai saat itu penghuni asrama memanggilnya MOMOYE, dan nama Mardiyem hilang ditelan asrama Telawang.

Setelah Jepang kalah, aktifitas di asrama Telawang tidak begitu ramai seperti biasanya, orang Jepang mulai hilang dan tidak pernah datang ke asrama telawang. Mardiyempun pergi dari asrama Telawang menuju Kapuas disana mardiyem bertemu dengan Amat Mingun yang menjadi suaminya, dari pernikahannya melahirkan 1 orang anak lelaki bernama Mardiyono. Kemudian Mardiyem dan sekeluarga kembali pulang ke yogyakarta.

Pada tahun 1993 Mardiyem mendaftarkan diri ke LBH Yogyakarta sebagai perempuan korban penjajahan Jepang. Sejak saat itu masyarakat tahu tentang masa lalu Mardiyem dan tak jarang masyarakat banyak yang menjauhi, mengejek, dan menghinanya. Penghinaan demi penghinaan ia lewati sampai tahun 2000, Mardiyem menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada para Jugun Ianfu saat penjajahan Jepang dalam sebuah acara kemerdekaan yang diminta oleh panitia acara tersebut. Setelah Mardiyem menceritakan semuanya, masyarakatpun akhirnya mengetahui apa yang terjadi pada Mardiyem dan para Jugun Ianfu lainnya. Masyarakat mulai berubah sikap dan sejak saat itu keadaanpun mulai membaik.

Buku ini secara gamblang menceritakan sejarah Jugun Ianfu korban penjajahan Jepang dalam perang dunia II pada tahun 1942-1945. Melalui penuturan Mardiyem (salah satu mantan Jugun Ianfu) ia menceritakan masa lalunya sebagai penghuni asrama Telawang. Dari mulai masa kecil seorang Mardiyem, keberangkatannya menuju Borneo, kehidupannya di asrama Telawang, dan sampai pada pencarian keadilan para jugun Ianfu. Buku ini benar-benar lengkap memaparkan informasi kejadian dengan didukung gambar dan foto-foto dari narasumber yang bersangkutan.

Namun pada akhir buku ini tidak menceritakan secara utuh akhir dari perjalanan Mardiyem dalam mencari keadilan. Pada bab akhir buku ini dilengkapi pemaparan penulis tentang asal-usul pendirian sistem Jugun Ianfu.

Buku ini sangat membantu para pembaca yang tidak mengetahui sama sekali informasi tentang Jugun Ianfu. Atau bahkan menjadi referen tambahan bagi yang ingin mengetahui sejarah penjajahan Jepang pada perang Dunia II. Dan kemunculan buku ini patut diacung-i jempol dan dihargai sebagai referen tambahan dan menu wajib bacaan bagi para Nasionalis atau terutama bagi para perempuan yang tetap semangat memperjuangkan haknya sebagai perempuan.

Sejarah bukan untuk dilupakan karena kita lahir dan hidup dari sejarah itu sendiri.

By:
Novianti Suradji (vhie_suradji@yahoo.co.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar